Hari ini, layar ponsel seolah telah menjadi perpanjangan tangan kita. Setiap jengkal aktivitas harian—mulai dari membuka mata hingga tidur kembali—didikte oleh internet dan riuhnya media sosial. Bahkan hampir seluruh aktivitas dapat dilakukan hanya melalui genggaman tangan. Namun, di balik pesatnya tingkat modernisasi, masih ada sebuah komunitas adat yang tetap memilih mempertahankan cara hidup sederhana dan berdampingan dengan alam, yaitu masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak, Banten.
Berkunjung ke Baduy diibaratkan bukan hanya sekadar perjalanan wisata biasa, tetapi menjadi pengalaman untuk “kembali ke titik nol”. Di tempat ini, pengunjung diajak untuk menikmati kesederhanaan, kebersamaan, serta hubungan yang harmonis dengan alam. Bagi sebagian orang, mungkin pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan yang ada sampai saat ini tidak selalu diukur dari seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan individu yang menjaga keseimbangan hidup dengan tetap menjaga kelestarian alam dan memanfaatkan sumber daya alam sekitar.
Masyarakat Baduy berada di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Dilansir pada Kemenpar, 2026 Masyarakat Baduy terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam, yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Masyarakat Baduy Luar cenderung relatif lebih terbuka terhadap interaksi dengan dunia luar bahkan dengan kecanggihan teknologi. Wisatawan dapat melihat aktivitas masyarakat seperti menenun kain tradisional, membuat kerajinan tangan, hingga menyaksikan kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan rumah panggung khas Baduy. Meskipun mulai berinteraksi dengan perkembangan zaman, mereka tetap menjaga nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur.
Jika Baduy Luar mulai terbuka, Baduy Dalam justru sebaliknya. Mereka tetap memegang teguh aturan adat secara menyeluruh demi menjaga kesakralan tanah leluhur. Di kawasan ini tidak terdapat aliran listrik, kendaraan bermotor, maupun penggunaan berbagai produk berbahan kimia. Bagi mereka, kesederhanaan bukanlah tanda keterbelakangan. Ini adalah sebuah pilihan hidup—sebuah warisan turun-temurun untuk menghormati alam dan menjaga amanah leluhur. Ketika Wisatawan Harus Belajar Menjadi “Orang Baduy”
Keunikan Baduy bukan hanya terletak pada kehidupan masyarakatnya yang masih mempertahankan tradisi leluhur, tetapi juga pada cara mereka membangun hubungan dengan orang luar. Sebelum memasuki kawasan Baduy Dalam, wisatawan yang melakukan trip ke Baduy terlebih dahulu dikenalkan berbagai aturan adat yang berlaku. Penjelasan tersebut sebagai pengetahuan bagi setiap pengunjung untuk dapat menghormati nilai-nilai budaya yang dijaga oleh masyarakat Baduy. Selama berada di kawasan adat, Wisatawan dilarang menggunakan telepon seluler, mengambil foto atau video, serta membawa berbagai produk berbahan kimia seperti sabun dan sampo pabrikan.

(sumber: https://www.instagram.com/p/DapsF0TklWN/?igsh=NDl6NHB1cWlhZ2w2)
Aturan adat Baduy mungkin terkesan “tidak biasa” bagi wisatawan. Tapi justru di situlah letak proses komunikasi antarbudaya terjadi, ketika dunia modern yang dimiliki wisatawan bersentuhan langsung dengan tradisi leluhur dari masyarakat Baduy. Wisatawan tidak diminta untuk ikut memakai baju adat mereka bahkan tradisi mereka, tetapi cukup untuk menghormati nilai-nilai budaya yang berlaku selama berada di dalam kawasan adat tersebut. Sebaliknya, masyarakat Baduy juga menerima kehadiran wisatawan dengan ramah selama mereka menghargai aturan yang telah ditetapkan.
Interaksi sederhana tersebut menunjukkan bahwa komunikasi antarbudaya tidak selalu diwujudkan melalui percakapan panjang, tetapi juga melalui sikap saling menghormati terhadap norma dan budaya yang berbeda. Setiap langkah kecil yang diambil untuk mengikuti aturan adat dan budaya mereka sebenarnya adalah bentuk penghormatan tertinggi dalam menjaga kelestarian identitas budaya masyarakat Baduy yang masih murni.
Baduy Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Budaya yang Berbeda
Secara umum bahwa komunikasi antarbudaya merupakan proses komunikasi antara individu yang memiliki latar belakang budaya berbeda sehingga membutuhkan kemampuan memahami perbedaan nilai, norma dan kebiasaan. Fenomena komunikasi antara masyarakat Baduy dan wisatawan juga menunjukkan bahwa komunikasi antarbudaya merupakan proses dua arah. Sebagaimana dijelaskan oleh Klyukanov (2025) komunikasi antarbudaya merupakan proses yang dinamis dan berlangsung secara timbal balik, sehingga keberhasilan interaksi tidak hanya bergantung pada penyesuaian individu yang memasuki budaya baru, tetapi juga pada keterbukaan masyarakat penerima dalam membangun hubungan. Dalam konteks Baduy, wisatawan berupaya mematuhi norma adat yang berlaku, sementara masyarakat Baduy tetap menerima kehadiran wisatawan tanpa harus mengubah identitas budaya mereka.
Proses penyesuaian antarbudaya tersebut selanjutnya dapat dipahami melalui Teori Negosiasi Identitas yang dikembangkan oleh Stella Ting-Toomey. Menurut Ting-Toomey (2015), negosiasi identitas tidak semata-mata bertujuan untuk menyeragamkan cara berkomunikasi, melainkan sebagai upaya menciptakan rasa keterlibatan (involvement), kepercayaan (trust), serta koneksi interpersonal yang kuat sehingga mampu mengurangi jarak sosial dan membangun komunikasi yang efektif (Qur’ani & Ridho, 2026).
Dalam kehidupan masyarakat Baduy, proses negosiasi identitas tampak ketika mereka tetap mempertahankan adat, tradisi, dan aturan leluhur meskipun menerima kunjungan wisatawan dari berbagai daerah. Di sisi lain, wisatawan juga melakukan penyesuaian perilaku dengan mematuhi seluruh aturan yang berlaku selama berada di kawasan adat. Meskipun berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, wisatawan bersedia mengikuti norma dan adat yang berlaku sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas budaya masyarakat Baduy. Penyesuaian tersebut tidak berarti wisatawan kehilangan identitas budayanya, melainkan menunjukkan bahwa identitas dapat dinegosiasikan sesuai dengan konteks komunikasi yang sedang dihadapi.
Hal ini terlihat ketika wisatawan tidak menggunakan telepon seluler, tidak mengambil foto, serta mengikuti berbagai ketentuan adat selama berada di kawasan Baduy. Namun, setelah meninggalkan kawasan tersebut, wisatawan kembali menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai identitas dan budayanya, seperti menggunakan teknologi digital, mengenakan pakaian yang biasa digunakan, serta beraktivitas sebagaimana sebelum berkunjung ke Baduy. Dengan demikian, proses negosiasi identitas yang terjadi bukanlah perubahan identitas secara permanen, melainkan penyesuaian perilaku komunikasi terhadap norma budaya setempat. Sikap saling menghormati inilah yang memungkinkan masyarakat Baduy dan wisatawan membangun hubungan yang harmonis tanpa menghilangkan identitas budaya masing-masing.
Konsistensi Menjaga Jati Diri
Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi teknologi digital dan perubahan yang begitu cepat, masyarakat Baduy menunjukkan bahwa mempertahankan identitas budaya bukan berarti menutup diri terhadap dunia luar. Mereka tetap membuka ruang interaksi dengan masyarakat luas, tetapi tetap konsisten menjaga nilai, tradisi, dan aturan adat sebagai bagian dari jati diri mereka.
Mengunjungi Baduy bukan hanya tentang melihat kehidupan masyarakat adat dari dekat, tetapi juga tentang belajar membangun komunikasi dengan budaya yang berbeda. Ketika masyarakat Baduy tetap menjaga identitasnya dan wisatawan memilih menghormati aturan yang berlaku, di situlah komunikasi antarbudaya menemukan maknanya. Masyarakat Baduy memberikan contoh bahwa mempertahankan identitas budaya tidak menghalangi terciptanya komunikasi yang baik dengan masyarakat luar. Sebaliknya, identitas budaya yang dijaga dengan konsisten justru menjadi landasan bagi terbangunnya hubungan yang saling menghormati.
Wisatawan pun menunjukkan bahwa penyesuaian terhadap norma budaya setempat bukan berarti kehilangan identitasnya, melainkan bentuk penghargaan terhadap budaya yang sedang mereka kunjungi. Mungkin ini yang dimaksud dengan “kembali ke titik nol”, yaitu kembali pada nilainilai kehidupan yang mengajarkan rasa hormat, kesederhanaan, dan penghargaan terhadap perbedaan sebagai fondasi terciptanya hubungan yang harmonis.
Sumber
Klyukanov, I. E. (2025). Principles of intercultural communication (3rd ed.). Routledge.
https://doi.org/10.4324/9781003463054
Qur’ani, A., & Ridho, S. (2026). Negosiasi Identitas Kedaerahan Dalam Podcast Sebagai Praktik
Komunikasi Antarbudaya. Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, Vol 18 (1), 29-
54.
Website
Kemenpar.go.id (2026, April 20). 5 Fakta Unik Suku Baduy. https://kemenpar.go.id/berita/5-
fakta-unik-suku-baduy
@wisubasababaduy https://www.instagram.com/p/DapsF0TklWN/?igsh=NDl6NHB1cWlhZ2w2













